Intelektual Organ(ik)

Matahari bersinar tak begitu terik
Saatku tiba jam 13.15 lewat beberapa detik
Kampus sepi ditinggal mahasiswa mudik
Sebab sedang libur kalender akademik
Lalu hujan turun rintik-rintik
Ku duduk di pelataran masjid berlantaikan keramik
Seorang kawan menyapa, ia kenakan baju batik
Pakaian khas Indonesia yang diakui dunia sangat estetik
Dengan beragam motifnya yang unik
“Kok masih ke kampus, ada agenda apa?,” tanyanya mengulik
“Biasalah..” jawabku berbisik
“Bimbingan skripsi ya,” sautnya sambil cekikik
“Lagi pengen main aja,” ujarku spesifik
Kami lanjut berbincang, menjaga pikiran agar selalu terpantik
Sebab mahasiswa punya karakteristik:
Menghidupkan tradisi intelektual yang dialektik
Istilah Gramsci, “Intelektual Organik”
Kalau kata Kuntowijoyo, “Intelektual Profetik”
Tanpa cemilan kripik
Kami berbincang beragam topik:
dari soal politik
Mistik
Tanaman hidroponik
Sampai tugas akhir yang belum lanjut diketik
Tak seperti seorang pejabat-cum-narapidana yang kerap bilang “taik!”
Atau para elit yang bertikai saling mengadu delik
Jika berbeda pandangan, kami saling berargumen dengan baik-baik
Pokoknya, Asik!
Sedikit berbincang sepak bola soal strategi-taktik
Kecewa klasemen tim favorit tak kunjung naik
Ceritakan Chelsea yang permainannya juga kurang cantik
Mengundang tawa menggelitik
Lalu agak serius, menyinggung kondisi negara yang sedang paceklik
Persoalan bukan hanya pemimpin yang tak karismatik
Atau para pembantunya yang kapitalistik
Tapi, ketidakmampuan menyelesaikan masalah secara holistik
Itu, patut kita kritik!
Saat di rezim sekarang banyak orang tak berkutik
Karena barangkali takut diculik
Kita butuh media yang setia kode etik jurnalistik
Lantang bersuara menjadi pilar demokrasi secara sistemik
Tentu kita tak butuh komika yang mengaku agnostik
Diciduk karena konsumsi barang haram lewat disuntik
Pada istilah “toleransi” dan “open minded” ia berintrik
Menghasilkan polarisasi masyarakat, yang kian menukik
Dalam Teater perebutan kekuasaan yang kerap membuat jijik
Masyarakat terkadang sekedar pernak-pernik
Dimanfaatkan orang-orang yang seolah patriotik,
Ketika ditagih janji, mereka panik
Rasanya ingin menghardik!
Masyarakat kita kerap bersikap fanatik
Memuji jagoan politik bak pahlawan heroik
Membuat kegaduhan di tengah publik
Saling mencaci di media sosial, lupa UU ITE tengah membidik
Seperti kurang piknik!
Fenomena yang membuat rajutan persatuan tercabik-cabik
Padahal yang kerap menjadi korban sesama wong cilik:
dari petani, nelayan, pedagang, hingga buruh pabrik
Yang terkadang susah buat makan dan bayar listrik
Sungguh klasik!
Kita butuh Ulama yang pada kekuasaan tak tertarik
Berani menentang orang-orang fasik dan munafik
Ulama yang selalu lantang memekik
Setiap kali keadilan masyarakat terusik
Barangkali, Habib Rizik?!
Yang pasti kita butuh negarawan autentik
Mereka yang bisa menjadi penengah konflik
Orang-orang yang tak suka berpolemik
Tapi fokus memberi solusi permasalahan bangsa dengan cerdik
Begitulah cara negarawan merawat republik
Tiba-tiba, ringtone HP di kantong berbunyi ritmik
Teringat, harus menjemput adik
Buka WhatsApp, balas “Tungguin ya (titik)”
Alhasil perbincangan harus berakhir secara fisik
Kita sambung nanti lewat media elektronik
Tak lupa salaman ala pertemuan diplomatik
Sebelum balik, pasang handsfree setel musik
Izzatul Islam – Jejak, begitu apik
Untuk dinikmati di sepanjang jalan, lirik demi lirik
Agar membangkitkan semangat enerjik
Khawatir mengganggu berkendara–celaka–masuk klinik
Volume suara musik harus diatur tak berisik
Setelah HP selesai diutak-atik
Masukkan ke tas, nyalakan motor, lekas putar balik
Gas dengan ciamik!
Sedikit pesan dari yang bukan pakar linguistik:
Dunia kita mungkin relativistik
Tapi kehidupan ini bukan mekanika klasik
Perjuangan hidup harus deterministik
Dengan kesungguhan, tanpa hukum probabilistik
Tentunya, juga dengan tawakal pada Sang Khalik
Itulah sedikit cerita di kampus calon pendidik
Yang terkenal dengan gedung kembar tak identik
Besok ku harus malpraktik
Mahasiswa fisika tapi mengajar matematik
Tak apalah, kan masih segenetik
Sebelumnya mohon maaf jika kurang artistik
Maklum, sekedar menyalurkan kata-kata yang di kepala berakrobatik
Jika tak berkenan dengan tulisan di blog ini bisa ingatkan pemilik
Semoga kita senantiasa mendapat taufik
Wallahul muwafik ila aqwami thorik
Tabik!